Sumber: the-open-quran-book-and-rosary-for-religion-background-photo.jpg (3021×1960) Di tengah kehidupan yang penuh tuntutan, manusia sering kali lupa bahwa setiap hal yang dimilikinya merupakan nikmat dari Allah. Kesehatan, waktu, keluarga, bahkan hal-hal kecil seperti udara yang dihirup setiap hari, kerap luput dari rasa syukur. Dalam konteks inilah, pesan “Tidak Mendustai Nikmat Allah” menjadi sangat relevan untuk direnungkan. Salah satu ayat yang paling kuat mengingatkan manusia tentang hal ini terdapat dalam Surah Ar-Rahman, yaitu: “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Ayat ini diulang hingga 31 kali, menunjukkan betapa pentingnya manusia untuk menyadari dan tidak mengingkari nikmat yang telah diberikan. Berdasarkan tafsir dalam buku Tafsir Surah Ar-Rahman karya Syamsul Yakin, pengulangan ayat tersebut bukan sekadar retorika, melainkan bentuk penegasan (taqrir) agar manusia dan jin benar-benar merenungi berbagai nikmat Allah. Nikmat tersebut tidak hanya berupa hal yang besar seperti kehidupan dan alam semesta, tetapi juga hal-hal sederhana yang sering dianggap sepele.Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan, Rasulullah SAW pernah membacakan Surah Ar-Rahman kepada para sahabat. Namun, para sahabat terdiam tanpa merespons. Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa jin justru memberikan respons yang lebih baik, dengan mengatakan: “Tidak ada satu pun nikmat-Mu, wahai Tuhan kami, yang kami dustakan. Segala puji bagi-Mu.” Hadist ini menjadi pengingat bahwa mengakui nikmat Allah bukan hanya dengan hati, tetapi juga dengan lisan dan sikap.Para ulama juga memberikan penjelasan mendalam terkait ayat ini. Syekh Nawawi menafsirkan bahwa ayat tersebut merupakan pertanyaan yang menggugah kesadaran manusia, apakah ada satu saja nikmat Allah yang layak diingkari? Dari perspektif ini, mendustai nikmat Allah tidak selalu berarti mengingkari secara langsung. Sikap lalai, tidak bersyukur, menggunakan nikmat untuk hal yang tidak baik, atau terus-menerus mengeluh juga dapat termasuk bentuk pengingkaran terhadap nikmat. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap tidak mendustai nikmat Allah dapat diwujudkan melalui berbagai cara. Di dalam keluarga, hal ini bisa berupa menghargai kehadiran orang tua dan anggota keluarga lainnya. Di lingkungan kampus, mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan belajar dengan sungguh-sungguh tanpa banyak mengeluh. Sementara dalam masyarakat, bentuknya bisa berupa berbagi kepada sesama dan tidak bersikap sombong atas apa yang dimiliki. Pada akhirnya, pesan dari Surah Ar-Rahman mengajarkan bahwa syukur bukan sekadar ucapan, tetapi sikap hidup. Menyadari nikmat, mengakuinya, dan menggunakannya dengan baik adalah bentuk nyata dari rasa syukur tersebut. Dengan demikian, manusia tidak hanya terhindar dari sikap mendustai nikmat Allah, tetapi juga mampu menjalani hidup dengan lebih bermakna dan penuh kesadaran.Sebagaimana penegasan dalam ayat tersebut, pertanyaan yang terus diulang sebenarnya adalah ajakan untuk bercermin: dari sekian banyak nikmat yang telah diberikan, masihkah kita mendustakannya? Post Views: 2 Post navigation Technological Advancements And Their Role In International Political Security